Archive for the Pangalaman Category

Sagala diduitkeun, sagala kudu Komisian

Posted in Bahasa Sunda, bodor, Eling, heureuy, kabayan, Lalampahan, Makalangan, ngawangkong, paguneman, Pangalaman, pangeling2, Sanes kanten, seuseurian, tepas on 25 Oktober 2013 by kangadesaputra

Asa lieur ngabandungan hirup jalma jaman ayeuna, loba pisan anu geus leungit rasa. Sagala hal siganateh kudu jadi “duit”. Saperti nu kaalaman ku kuring poe ieu, pira nanya info sugan aya nu boga mobil bak / kol buntung sabab butuh jang ngangkut bahan spanduk kuring kudu lieur gara2 masalah komisi.

Anu dipentaan info atuda babaturan, ngan heueuh puguh deui ari anu boga mobilnamah da kuring kakara wawuh.

Supir / anu boga mobil bak muka harga 250.000, nya ngagebeg atuh da biasana oge 150rb biaya nyewa mobil bak jang ngangkut bahanteh. Dilema memang, sabab kuring memang keur butuh pisan ku bahan, di lain pihak naha asa kabina2 teuing eta supir menta ongkosna. Nyoba ditanya leuwih jero kunaon bet mahal2 teuing, nya pok teh supir nyarita balaka “Aduh kumaha nya kang, hampura soalna ieu komisianeun-na aya 2 an” …. Didieu (babaturan kuring) jeung diditu (babaturana babaturan kuring).

Pickup

Astagfirulloooooh… kuring istigfar sababaraha kali. Geuningan kitu nya ayeunamah, euweuh istilah babaturan, euweuh istilah silih tulungan, tetep we sagala men gencet, maen perhitungan. Heuhehueuehueu seuri koneng, miris….

Akhirna kapaksa kuring mayar ongkos 225.000, sewa na 200.000, anu 25rb cenah ajang dibagi2 kanu marenta komisi.

Kumaha geus rengse acan yeu carita? Kela acan lur, aya keneh… kieu yeuh :

Begitu beres ngangkut barang… Torojol babaturan kuring datang tatanya “Kang, ari tadi dipasihan sabaraha ongkos mobil?”

Kuring : Dibere 225.000 ceuk kuring spontan.

Babaturan : “Waduuuuh naha ka saya nyebutna ngan 200rb nya….????”

Kuring : “Teuing da ti saya dibere 225.000 sabab tadi ngomongna aya 2 an anu kudu dibere komisi!!!!”

Babarutan : (ngajawab semu reuwas bari beungeutna keciri beureum) “lain soalna ka saya nyebutna 200rb, itu soalna dunungan nanyakeun, lain komisi jang saya sih…”

Kuring : “nya euy rieut mun kieu mah saya oge tekor…”

Babaturan : “nya geus keun wae” tuluy indit ngaleos….

Kuring : (teu ngajawab ngan nggerentes na jero hate) “kacida… kacida….”

 

Geus engke deuimah mun teu kapaksa2 teuingmah moal menta tulung ka batur, nya setidakna mun dek menta tulungteh pilih2 kira2 jalmana anu kumaha heula…. eta oge teu nyangka sih menyiiiiii…. padahal babaturan sorangan.

Cag.

 

 

 

Iklan

Perlukah Tragedi Bubat Difilmkan?

Posted in Eling, Gerakan Kasundaan, Lalampahan, Makalangan, Pangalaman, pangeling2, Primbon, Pusaka, Situs on 10 Januari 2010 by kangadesaputra

Siapa pun, terutama orang Sunda, sepakat bahwa Tragedi Bubat merupakan peristiwa sejarah yang sangat menarik, bukan hanya dari sudut pandang sejarah, melainkan juga sastra. Apalagi, jika diangkat ke layar lebar, lebih seru. Dari sisi sejarah menarik karena faktanya melibatkan dua kerajaan besar di nusantara yang berkembang pada abad ke-14, yakni Kerajaan Galuh di tatar Sunda dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Dari sudut sastra, peristiwa itu dapat dikemas sedemikian rupa menjadi cerita yang menguras emosi, antara percintaan, romantisme, harga diri, dan tragedi.

Banyak sekali penulis yang mengabadikan peristiwa ini sejak abad ke-15 hingga saat ini. Beberapa naskah yang menceritakan tragedi ini dengan sebutan Perang Bubat dan dalam versinya masing-masing, seperti Kitab Pararaton dan Kidung Sundayana, serta naskah-naskah Pustaka Wangsakerta.

Sementara itu, di dalam Naskah Negara Kretagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca, peristiwa itu tidak tercatat dengan jelas. Saya menduga, tentu saja penulis istana Majapahit tidak akan mencatat peristiwa yang telah mencoreng nama baik raja, mahapatih, dan negerinya sendiri ke dalam dokumentasi resmi kerajaannya.

Saat ini, banyak sekali karya sastra yang menggambarkan Tragedi Bubat, yang lebih banyak mengekspresikan reka peristiwa dengan penafsiran penulis disertai keindahan nilai sastra. Sebut saja Kang Yoseph Iskandar. Ia menulis dengan tuturan yang pro Sunda mengenai “Perang Bubat” di majalah Mangle sekitar tahun 1987. Baru-baru ini, Aan Merdeka Permana menulis buku dengan judul Perang Bubat: Tragedi di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka.

Melihat judulnya saja, tentu ada sisi lain yang diangkat penulis, yakni “rekaan” baru adanya percintaan antara Gajah Mada dan Dyah Pitaloka, sebelum Hayam Wuruk jatuh cinta kepada Dyah Pitaloka. Gajah Mada, dinisbatkan ke dalam tokoh Ramada, seorang pegawai rendahan di Keraton Kerajaan Galuh, lalu mengembara dan pada kemudian hari menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit dengan nama Gajah Mada. Kebenarannya? Wallahu a’lam.

Langit Kresna Hariadi menulis buku yang berjudul Gajah Mada: Perang Bubat. Sementara Hermawan Aksa menulis khusus tentang Dyah Pitaloka dengan judul Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit. Tentu saja, para penulis ini tidak akan berani menyebut karyanya sebagai karya sejarah. Lebih tepat karya sastra yang berlatar belakang tokoh sejarah, bukan peristiwa sejarah.

Denting pedang, cinta, tragedi

Tidak dapat dimungkiri bahwa Tragedi Bubat merupakan salah satu episode sejarah yang sangat penting, berkesan, menguras emosi, dan menjadi bagian dari sejarah tatar Sunda.

Kisah ini, selain berisi peristiwa tragis yang menyisakan luka teramat dalam dan dendam sejarah bagi orang Sunda, sekaligus juga mengakhiri karier gemilang dari seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit yang monumental, Gajah Mada. Dari berbagai versi yang muncul tentang tragedi ini, saya ingin mengetengahkan versi yang paling banyak diceritakan dalam berbagai naskah dan karya sastra hingga saat ini, yang juga dengan mudah dapat ditemukan di berbagai situs web di internet.

Tragedi Bubat adalah tragedi yang tragis antara Kerajaan Galuh dan Kerajaaan Majapahit pada pertengahan abad ke-14. Saya tidak berani menyebut angka tahun dengan pasti, mengingat terdapat beberapa angka tahun yang variatif, ada yang menyebut peristiwa itu terjadi pada tahun 1350, 1357, hingga 1360. Yang jelas, peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Prabu Maharaja Linggabuana yang bertahta di Kerajaan Galuh dan Prabu Hayam Wuruk yang berkuasa di Kerajaan Majapahit. Tokoh sentral dalam peristiwa ini, yaitu Dyah Pitaloka (putri cantik Kerajaan Galuh), Hayam Wuruk, dan Gajah Mada sang Mahapatih Majapahit. Gajah Mada saat itu sedang gencar-gencarnya mewujudkan sumpahnya sendiri, Sumpah Palapa.

Peristiwa ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin mempersunting Putri Dyah Pitaloka yang juga dikenal dengan panggilan Citraresmi. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri cantik ini setelah melihat lukisan sang putri yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman terkenal saat itu, Sungging Prabangkara. Selain itu, ada niat lain dari Hayam Wuruk, yakni untuk mempererat tali persaudaraan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Galuh di tatar Sunda. Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka tanpa menimbulkan hambatan yang berarti. Keluarga Kerajaan Majapahit menyadari bahwa pendiri kerajaan itu, yakni Raden Wijaya, juga berasal dari tanah Sunda.

Hayam Wuruk mengirim surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka dan menghendaki upacara pernikahannya dilangsungkan di Keraton Majapahit. Sesungguhnya, dengan mudah dapat dipahami jika dewan kerajaan negeri Sunda keberatan –bukan pada lamarannya, melainkan pada pesta pernikahan yang diminta dilangsungkan di Majapahit.

Hyang Bunisora Suradipati, sang Mangkubumi Kerajaan Galuh, berpendapat, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang ke pihak pengantin lelaki. Sesuatu yang dianggap melanggar tradisi yang berlaku di tanah Sunda saat itu. Bisa juga, Hyang Bunisora, yang dianggap luhung elmu pangaweruh, berprasangka, jangan-jangan keinginan Hayam Wuruk merupakan strategi menjebak Kerajaan Sunda agar takluk di bawah kekuasaannya.

Hubungan antara Kerajaan Galuh dan Majapahit saat itu, sesungguhnya berjalan baik dan relatif erat. Apalagi, rasa persaudaraan di antara kedua kerajaan itu sudah ada dari garis leluhurnya. Oleh karena itu, Maharaja Linggabuana tidak terlalu risau terhadap berbagai prasangka. Dengan kharisma dan wibawa sang raja yang sangat besar, ia memutuskan untuk berangkat ke Majapahit untuk memenuhi harapan Hayam Wuruk.

Berangkatlah Maharaja Linggabuana bersama putri kesayangannya, Dyah Pitaloka, beserta rombongan terbatas ke Majapahit. Perjalanan yang cukup jauh, dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa, tentu bukan perkara mudah. Dari Kawali ke Cirebon, lalu berlayar ke ujung timur Pulau Jawa.Tiba di Majapahit, para tamu agung Kerajaan Galuh itu ditempatkan di Pesanggrahan Bubat –yang sampai sekarang Bubat, masih dalam perdebatan, apakah di Trowulan atau di tempat lain. Mahapatih Gajah Mada dengan senang hati menerima kedatangan rombongan calon pengantin rajanya –lepas dari kisah cinta rekaan Aan Merdeka Permana antara Gajah Mada ketika muda dan Dyah Pitaloka.

Kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat tiba-tiba mengusik niat licik Gajah Mada. Bagaimanapun, sumpahnya di hadapan sang Raja untuk menguasai nusantara harus terlaksana. Negara-negara yang berada jauh di ujung barat yang terbentang hingga Tumasik (Singapura) telah tunduk di bawah kekuasaannya. Demikian pula kerajaan-kerajaan yang terbentang jauh ke timur hingga Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara Barat, juga dengan mudah menyerah. Namun, mengapa Kerajaan Galuh yang hanya sepenggalan dari Kerajaan Majapahit tak dapat ditaklukkan? Kita dapat membayangkan kegalauan hati sang Mahapatih.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai kesatria Sunda, Maharaja Linggabuana menolak tekanan itu. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang. Mahapatih Gajah Mada dengan pasukan bersenjata lengkap, berjumlah besar, dan para bhayangkara yang tangguh, berhadapan dengan Maharaja Linggabuana dengan pasukan pengiring calon pengantin yang berjumlah sedikit dan tidak membawa persenjataan untuk perang, kecuali aksesori untuk kawinan. Namun, heroisme Ki Sunda ditunjukkan hingga titik darah penghabisan.

Dapat dibayangkan, pertempuran yang tidak seimbang itu tentu berakhir dengan tragis. Denting pedang, keris, dan kujang, serta romantisme cinta dan tragedi dramatis menghiasi episode senja di tanah Bubat itu. Maharaja Linggabuana gugur bersama para menteri dan pejabat kerajaannya yang setia. Sang calon pengantin, Dyah Pitaloka, juga menemui ajalnya. Terdapat versi yang berbeda tentang wafatnya Dyah Pitaloka. Ada yang menyebut gugur karena bertempur dengan pasukan Majapahit, ada pula yang lebih tragis menggambarkannya dengan bunuh diri, mempertahankan harga diri dan kehormatan kerajaan. Cerita lain yang lebih heroik, Dyah Pytaloka berduel dengan Gajah Mada meskipun akhirnya gugur. Sang putri berhasil melukai tubuh Gajah Mada dengan keris Singa Barong berlekuk 13. Keris leluhur Pasundan peninggalan pendiri Kerajaan Tarumanegara yang bernama Prabu Jayasinga Warman. Syahdan, akibat luka itu, Gajah Mada menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan hingga meninggal dunia.

Dendam sejarah yang amat mendalam di kalangan kerabat negeri Sunda hingga rakyat jelata, tertanam dalam memori kolektif selama berabad-abad. Saya lebih suka menyebut peristiwa itu dengan “Tragedi Bubat”, bukan “Perang Bubat”. Karena fakta yang terjadi, bukan perang antara pasukan dua kerajaan besar, melainkan tragedi antara sekelompok pengiring pengantin yang terlibat kesalahpahaman dan Mahapahatih Kerajaan Majapahit!. Akibat dari tragedi ini, tertanam larangan adat, Esti larangan ti kaluaran (tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda). Dalam arti lain, dilarang menikah dengan orang Jawa. Bahkan, sejak 64 tahun merdeka, di tanah Sunda tidak ditemukan Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Hemat saya, rencana Pemprov Jawa Barat untuk membuat film kolosal “Perang Bubat” dengan anggaran Rp 6 miliar dari APBD, untuk saat ini, kurang tepat. Lebih baik dana itu digunakan untuk rehabilitasi infrastruktur korban gempa bumi, perbaikan sarana pendidikan, peningkatan kesejahteraan rakyat, atau pembenahan destinasi pariwisata yang lebih bermanfaat. Lain waktu, mungkin saja. Kita tunggu tanggal mainnya! (Prof. Dr. H. Dadan Wildan, Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara RI)***

Web: http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade tail&id=119874

Cara Sunda Membangun Kesejahteraan

Posted in Eling, Lalampahan, Makalangan, masantren, ngalalana, ngelmu, Pangalaman, pangeling2, Sanes kanten on 12 Desember 2009 by kangadesaputra

Kompas, Sabtu, 31 Januari 2009 | 11:26 WIB
Oleh Djasepudin

Laku hidup yang hanya menuruti nafsu tanpa menimbang ulang kadar nikmat, manfaat, dan mudaratnya merupakan gambaran singkat kecenderungan hidup sebagian besar masyarakat zaman sekarang. Bukan isi yang dicari, melainkan lebih mengejar citra, gengsi, dan puja-puji. Masyarakat Sunda menamakannya ngaberung napsu atau kaleuleuwihi, cenderung diada-adakan, padahal kemampuan jauh dari yang diperlukan.

Pemujaan dalam menggapai impian tersebut dilakukan dengan pelbagai cara, malah terkadang mengabaikan undang-undang negara, aturan lisan, dan tulisan di kemasyarakatan. Bahkan agama yang dianut pun dilupakan, tunggul dirarud catang dirumpak.

Perilaku semacam itu tidak hanya didawamkan masyarakat kota. Masyarakat desa pun melakukan hal serupa. Mereka tidak memikirkan proses yang mesti dilalui. Memulai usaha tidak dipikir secara matang. Sebab, hasil akhir sangkan disebut hebat adalah segalanya.

Buncir leuit loba duit alias banyak uang dan pangan supaya dipiserab ku balarea (disegani masyarakat), tetapi terkenal buntut kasiran dan gumede, adigung-adiguna (kikir-sombong), adalah salah satu penandanya. Bahkan, saking sombongnya, meski r?a ketan r?a keton, barang atau kekayaan yang dimiliki itu tidak menyebabkan dirinya tingtrim paripurna, atau b?b?k ngoyor di sagara, rek nginum neangan cai alias kekayaan bukan jaminan kesejahteraan.

Untuk mencapai kesejahteraan harus melalui pelbagai tahapan, nete taraje nincak hambalan. Namun, tahapan itu mesti dibentengi dengan aturan negara dan dilandasi norma agama, indung hukum bapa darigama. Sebab, baik agama (Islam) maupun kebudayaan (Sunda) tidak melarang umatnya mencari ilmu pengetahuan guna mewujudkan kesejahteraan, moal nyapek mun teu ngoprek, moal ngarih mun teu ngarah, moal ngakeul mun teu ngakal.

Meski demikian, Sunda pun berpesan, elmu tungtut dunya siar, sukan-sukan sakadarna. Ada keseimbangan agar kita tidak terjerumus ng?lmu sapi atau ngelmu ajug. Muhun, elmu sapi adalah kebersamaan dalam hal yang buruk. Adapun elmu ajug adalah pandai berkhotbah, tetapi dirinya tidak melaksanakannya. Penganut ?lmu sapi dan ?lmu ajug awal-akhir bakal jadi korban dari ucap atau tindakannya, tamiang meulit ka bitis, senjata makan tuan.

Sebab, kekayaan atau ilmu yang dimiliki, jika tidak diamalkan dengan baik, disadari atau tidak lambat atau laun akan sirna, ilang tanpa laratan alias lepas tak berbekas. Sayang, siang-malam sebanyak mungkin menumpuk kekayaan, namun hilang seketika karena keteledoran, gulak-giluk kari tuur, h?rang-h?rang kari mata, teuas-teuas kari bincurang alias kekayaan yang dimiliki hanya tinggal selembar pakaian untuk sekadar menutupi kulit kering dan tulang belulang.

Miskin harta dan ilmu

Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi jika kita teu lali ka purwadaksi, teu mopoho keu wiwitan, teu poho ka bali geusan ngajadi. Sebab, orang yang ingat asal-muasal dalam menjalani kehidupan dituntut selalu waspada dan berserah diri kepada Yang Mahakuasa. Hirup dinuhun paeh dirampes, hirup katungkul ku pati pa?h teu nyaho dimangsa, banda sasampiran nyawa gagaduhan. Orang yang melupakan asal-muasal dan melanggar beragam aturan masuk pada kategori jauh ka bedug anggang ka dulang, urang kampung bau lisung, cacah runtah atah warah.

Orang yang jauh ka bedug anggang ka dulang dapat dipastikan selamanya tetap melarat, miskin ilmu dan miskin harta, kokoro nyoso malarat rosa. Hidup hanya mengandalkan belas kasihan dan sumbangan. Hirup ku panyukup ged? ku pam?r?. Sebab, pelbagai usaha yang dijalani orang yang miskin ilmu dan harta kerap berujung pada kekecewaan, n?t? sempl?k nincak semplak, serba salah.

Padahal, untuk membangun kesejateraan tidak mesti banyak harta. Yang lebih penting adalah ketekunan, cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok. Syarat maju dalam menjalani hidup pun bukan melulu faktor keluarga. Menjadi pengusaha tidak mesti terusing ratu rembesing kusumah alias turunan menak, ningrat, atau aristokrat. Orang merdeka yang mau maju tidak agul ku payung butut, ad?an ku kuda beureum, tidak mengandalkan dinasti atau keturunan.

Menjadi individu yang berkarakter dan merdeka merupakan keharusan. Individu yang mau maju dalam meraih kesejahteraan selalu memiliki saku rangkepan alias banyak perhitungan, ka hareup ngala sajeujeuh, katukang ngala sajeungkal, bobot pangayon timbang taraju, leuleus jeujeur liat tali, landung kandungan la?r asian.

Individu semacam ini pun dalam melakukan usaha tidak melulu mengejar kekayaan dalam bentuk benda, kujang dua pangad?kna alias sekali layar terkembang surut kita berpantang. Malah dua-tiga pulau mesti terlewati, sambil menyelam minum air.

Selain kejujuran dan ketekunan, modal lain adalah hemat, bibilintik ti leuleutik babanda ti bubudak, geus ged? tinggal mak?na. Segala aset yang masuk dan dikeluarkan selalu diperhitungkan dengan matang. Malah konsumsi dalam keseharian pun sehemat mungkin, kuru cileuh kent?l peujit, huap hiji diduakeun.

Prinsipnya adalah saeutik mahi loba nyeea atau dahar tamba lapar nginum tamba hanaang alias makan dan minum hanya seperlunya. Segala tindak tanduk mesti bermanfaat, lain lantung tambuh laku lain l?ntang tanpa b?ja, menghindari perjalanan yang tidak perlu dalam mewujudkan cita-citanya.

Tak asal jadi

Oleh karena itu, dalam memutuskan sesuatu tidak asal jadi, tetapi dimusyawarahkan dengan yang lebih ahli, bertanya kepada pakar dalam bidangnya. Nangtung di kariungan ngadeg di karageman, bobot pangayon timbang taraju, leuleus jeujeur liat tali, landung kandungan la?r asian.

Jika sudah menggapai yang dicita-citakan, pribadi Sunda yang merdeka sebisa dan sekuat mungkin tidak mudah tergoda harta, takhta, atau wanita, yang kadang menyesatkan dan menghancurkan. Hal itu untuk menghindari moro julang ngaleupaskeun peusing alias mengejar hal yang dianggap besar, sedangkan harta yang ada dalam genggaman malah dilepaskan.

Adapun wanita, sesuai dengan kodratnya, selain merupakan faktor penting dalam membangun kesejahteraan, jika tidak kita sikapi dengan baik dan hati-hati, kerap menjadi batu sandungan dan malah menghancurkan konstruksi bangunan. Nu geulis jadi werejit nu lenjang jadi baruang. Cag!

DJASEPUDIN Alumnus Program Studi Sastra Sunda Universitas Padjadjaran

BASA ASMARA BASA SUNDA

Posted in Bahasa Sunda, Eling, Lalampahan, Makalangan, ngalalana, Pangalaman, pangeling2, Sanes kanten on 11 Desember 2009 by kangadesaputra

Aku tergila gila padamu – Abi ka gegeloan ku anjeun

I love U – Abi bogoh ka anjeun

I’tell u – Abi bade ngabejaan anjeun

U look beautiful – anjeun katingali geulis

May I kiis u ? – wios abi nyium anjeun ?

Kiis me. – cium abi

Look at me – tingali abi

Hug me – Tangkeup abi

Don’t be shy – tong isin isin

U have a beautiful body – awakna bohay….jiiiaaahhh

It’s gonna be okay – moal nanaon tenang we

I don’t have sex – abi alim kimpoi

Sorry, I don’t do such a thing – punten , abi teu alim ngalakukeun hal nu kitu

I feel so good. – abi ngarasa enak

I don’t wanna leave u – abi alim ninggalkeun anjeun

Will u marry me? – Kersa teu nikah sareng abi?

Give me more time – pasihan abi waktos

I’m not good for u – abi teu pantes jang anjeun

laip diri = lupa diri

dayeuh = kota

kungsi nyanding = pernah berkunjung

ngahaleuang = bersenandung

bulan sapasi = bulan sabit

katambias = membias (bias cahaya)

kiwari = hari gini

baranang = bersinar

harepan = harapan

neang datang = pulang pergi

pias-pias = samar-samar

ngelusan = mengelus/membelai

kalangkang = bayangan

asih = kasih

ilang dangiang = sunyi sepi ( ga ada suara )

jumeneng = hidup

sumujud = sujud

awang-awang = langit

gusti = tuhan

sumembah = sembah

kagembang mojang = kepincut gadis

mulang = pulang

pengkolan = belokan

sareret = sekilas

linduh = teduh

tangkal = pohon

pinasti = mati

Dicutat ti : http://versophoto.wordpress.com/2009/09/10/bahasa-asmara-b-sunda/

Nuturkeun Indung Suku

Posted in Eling, Lalampahan, Makalangan, masantren, ngalalana, ngelmu, Pangalaman, pangeling2, Sanes kanten on 10 Desember 2009 by kangadesaputra

tuh jalanteh geuningan ukur satapak,

bari pinuh ku pengkolan…

nanjak mudun matak teu purun,

sisimpangan panipuan,

leuweung ganggong simagonggong,

sato jurig setan siluman,

kade sing panceg patekadan,

dioboran kaimanan,

agama nu jadi patokan,

qur’an dibaca jang cecekelan,

sugan jeung sugan kabagjaan kasampeur di tungtung jalan

hampura abdi dulur2….

hampura abdi Gusti….

diri rumaos teu sampurna,

laku lampah nu loba nganyerikeun baraya,

diri lamokot ku dosa

Muga jembar pangampurana,

ngarah hirup karasa nikmatna,

nyanggupan hayangna nyorang kasampurnaan.

akang.10.12.09

Pupuh naon cing?

Posted in Eling, Makalangan, masantren, Pangalaman, pangeling2 on 7 Desember 2009 by kangadesaputra

Budak leutik nuju pundung,

babaku pundungna peuting,

nguriling kakalayapan,

neangan nu geulis-geulis,

sarupaning puputrian,

nini2 nu kapanggih,

—-> Pupuh Naon Eta? beu meni kacida nya eusi na…

akang.12.09

Wilujeng

Posted in Eling, Lalampahan, Makalangan, ngelmu, Pangalaman, pangeling2, Sanes kanten on 7 Desember 2009 by kangadesaputra

Wilujeng wayah kieu ka para mitra sadayana, mugi2 paramitra sadaya salawasna aya dina panangtayungan mantena.

Anu di pasar2 mudah2an sing marema icalanana, atuh anu nuju diperjalanan sing atos-atos dijalana teu kenging culang-cileung wae ningalian nu herang2 bilih nabrak tihang.

Atuh kanu nuju beberes di bumina masing-masing sok enggalan geura aribak heula ulah beberes wae da engke oge barala deui…

Kanu nuju ngeblog atanapi fesbukan kade bilih hilap kana netepan…

Sakitu wae anu kapihatur, Wassalam, Cag.

akang.12.09