Perlukah Tragedi Bubat Difilmkan?

Siapa pun, terutama orang Sunda, sepakat bahwa Tragedi Bubat merupakan peristiwa sejarah yang sangat menarik, bukan hanya dari sudut pandang sejarah, melainkan juga sastra. Apalagi, jika diangkat ke layar lebar, lebih seru. Dari sisi sejarah menarik karena faktanya melibatkan dua kerajaan besar di nusantara yang berkembang pada abad ke-14, yakni Kerajaan Galuh di tatar Sunda dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Dari sudut sastra, peristiwa itu dapat dikemas sedemikian rupa menjadi cerita yang menguras emosi, antara percintaan, romantisme, harga diri, dan tragedi.

Banyak sekali penulis yang mengabadikan peristiwa ini sejak abad ke-15 hingga saat ini. Beberapa naskah yang menceritakan tragedi ini dengan sebutan Perang Bubat dan dalam versinya masing-masing, seperti Kitab Pararaton dan Kidung Sundayana, serta naskah-naskah Pustaka Wangsakerta.

Sementara itu, di dalam Naskah Negara Kretagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca, peristiwa itu tidak tercatat dengan jelas. Saya menduga, tentu saja penulis istana Majapahit tidak akan mencatat peristiwa yang telah mencoreng nama baik raja, mahapatih, dan negerinya sendiri ke dalam dokumentasi resmi kerajaannya.

Saat ini, banyak sekali karya sastra yang menggambarkan Tragedi Bubat, yang lebih banyak mengekspresikan reka peristiwa dengan penafsiran penulis disertai keindahan nilai sastra. Sebut saja Kang Yoseph Iskandar. Ia menulis dengan tuturan yang pro Sunda mengenai “Perang Bubat” di majalah Mangle sekitar tahun 1987. Baru-baru ini, Aan Merdeka Permana menulis buku dengan judul Perang Bubat: Tragedi di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka.

Melihat judulnya saja, tentu ada sisi lain yang diangkat penulis, yakni “rekaan” baru adanya percintaan antara Gajah Mada dan Dyah Pitaloka, sebelum Hayam Wuruk jatuh cinta kepada Dyah Pitaloka. Gajah Mada, dinisbatkan ke dalam tokoh Ramada, seorang pegawai rendahan di Keraton Kerajaan Galuh, lalu mengembara dan pada kemudian hari menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit dengan nama Gajah Mada. Kebenarannya? Wallahu a’lam.

Langit Kresna Hariadi menulis buku yang berjudul Gajah Mada: Perang Bubat. Sementara Hermawan Aksa menulis khusus tentang Dyah Pitaloka dengan judul Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit. Tentu saja, para penulis ini tidak akan berani menyebut karyanya sebagai karya sejarah. Lebih tepat karya sastra yang berlatar belakang tokoh sejarah, bukan peristiwa sejarah.

Denting pedang, cinta, tragedi

Tidak dapat dimungkiri bahwa Tragedi Bubat merupakan salah satu episode sejarah yang sangat penting, berkesan, menguras emosi, dan menjadi bagian dari sejarah tatar Sunda.

Kisah ini, selain berisi peristiwa tragis yang menyisakan luka teramat dalam dan dendam sejarah bagi orang Sunda, sekaligus juga mengakhiri karier gemilang dari seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit yang monumental, Gajah Mada. Dari berbagai versi yang muncul tentang tragedi ini, saya ingin mengetengahkan versi yang paling banyak diceritakan dalam berbagai naskah dan karya sastra hingga saat ini, yang juga dengan mudah dapat ditemukan di berbagai situs web di internet.

Tragedi Bubat adalah tragedi yang tragis antara Kerajaan Galuh dan Kerajaaan Majapahit pada pertengahan abad ke-14. Saya tidak berani menyebut angka tahun dengan pasti, mengingat terdapat beberapa angka tahun yang variatif, ada yang menyebut peristiwa itu terjadi pada tahun 1350, 1357, hingga 1360. Yang jelas, peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Prabu Maharaja Linggabuana yang bertahta di Kerajaan Galuh dan Prabu Hayam Wuruk yang berkuasa di Kerajaan Majapahit. Tokoh sentral dalam peristiwa ini, yaitu Dyah Pitaloka (putri cantik Kerajaan Galuh), Hayam Wuruk, dan Gajah Mada sang Mahapatih Majapahit. Gajah Mada saat itu sedang gencar-gencarnya mewujudkan sumpahnya sendiri, Sumpah Palapa.

Peristiwa ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin mempersunting Putri Dyah Pitaloka yang juga dikenal dengan panggilan Citraresmi. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri cantik ini setelah melihat lukisan sang putri yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman terkenal saat itu, Sungging Prabangkara. Selain itu, ada niat lain dari Hayam Wuruk, yakni untuk mempererat tali persaudaraan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Galuh di tatar Sunda. Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka tanpa menimbulkan hambatan yang berarti. Keluarga Kerajaan Majapahit menyadari bahwa pendiri kerajaan itu, yakni Raden Wijaya, juga berasal dari tanah Sunda.

Hayam Wuruk mengirim surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka dan menghendaki upacara pernikahannya dilangsungkan di Keraton Majapahit. Sesungguhnya, dengan mudah dapat dipahami jika dewan kerajaan negeri Sunda keberatan –bukan pada lamarannya, melainkan pada pesta pernikahan yang diminta dilangsungkan di Majapahit.

Hyang Bunisora Suradipati, sang Mangkubumi Kerajaan Galuh, berpendapat, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang ke pihak pengantin lelaki. Sesuatu yang dianggap melanggar tradisi yang berlaku di tanah Sunda saat itu. Bisa juga, Hyang Bunisora, yang dianggap luhung elmu pangaweruh, berprasangka, jangan-jangan keinginan Hayam Wuruk merupakan strategi menjebak Kerajaan Sunda agar takluk di bawah kekuasaannya.

Hubungan antara Kerajaan Galuh dan Majapahit saat itu, sesungguhnya berjalan baik dan relatif erat. Apalagi, rasa persaudaraan di antara kedua kerajaan itu sudah ada dari garis leluhurnya. Oleh karena itu, Maharaja Linggabuana tidak terlalu risau terhadap berbagai prasangka. Dengan kharisma dan wibawa sang raja yang sangat besar, ia memutuskan untuk berangkat ke Majapahit untuk memenuhi harapan Hayam Wuruk.

Berangkatlah Maharaja Linggabuana bersama putri kesayangannya, Dyah Pitaloka, beserta rombongan terbatas ke Majapahit. Perjalanan yang cukup jauh, dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa, tentu bukan perkara mudah. Dari Kawali ke Cirebon, lalu berlayar ke ujung timur Pulau Jawa.Tiba di Majapahit, para tamu agung Kerajaan Galuh itu ditempatkan di Pesanggrahan Bubat –yang sampai sekarang Bubat, masih dalam perdebatan, apakah di Trowulan atau di tempat lain. Mahapatih Gajah Mada dengan senang hati menerima kedatangan rombongan calon pengantin rajanya –lepas dari kisah cinta rekaan Aan Merdeka Permana antara Gajah Mada ketika muda dan Dyah Pitaloka.

Kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat tiba-tiba mengusik niat licik Gajah Mada. Bagaimanapun, sumpahnya di hadapan sang Raja untuk menguasai nusantara harus terlaksana. Negara-negara yang berada jauh di ujung barat yang terbentang hingga Tumasik (Singapura) telah tunduk di bawah kekuasaannya. Demikian pula kerajaan-kerajaan yang terbentang jauh ke timur hingga Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara Barat, juga dengan mudah menyerah. Namun, mengapa Kerajaan Galuh yang hanya sepenggalan dari Kerajaan Majapahit tak dapat ditaklukkan? Kita dapat membayangkan kegalauan hati sang Mahapatih.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai kesatria Sunda, Maharaja Linggabuana menolak tekanan itu. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang. Mahapatih Gajah Mada dengan pasukan bersenjata lengkap, berjumlah besar, dan para bhayangkara yang tangguh, berhadapan dengan Maharaja Linggabuana dengan pasukan pengiring calon pengantin yang berjumlah sedikit dan tidak membawa persenjataan untuk perang, kecuali aksesori untuk kawinan. Namun, heroisme Ki Sunda ditunjukkan hingga titik darah penghabisan.

Dapat dibayangkan, pertempuran yang tidak seimbang itu tentu berakhir dengan tragis. Denting pedang, keris, dan kujang, serta romantisme cinta dan tragedi dramatis menghiasi episode senja di tanah Bubat itu. Maharaja Linggabuana gugur bersama para menteri dan pejabat kerajaannya yang setia. Sang calon pengantin, Dyah Pitaloka, juga menemui ajalnya. Terdapat versi yang berbeda tentang wafatnya Dyah Pitaloka. Ada yang menyebut gugur karena bertempur dengan pasukan Majapahit, ada pula yang lebih tragis menggambarkannya dengan bunuh diri, mempertahankan harga diri dan kehormatan kerajaan. Cerita lain yang lebih heroik, Dyah Pytaloka berduel dengan Gajah Mada meskipun akhirnya gugur. Sang putri berhasil melukai tubuh Gajah Mada dengan keris Singa Barong berlekuk 13. Keris leluhur Pasundan peninggalan pendiri Kerajaan Tarumanegara yang bernama Prabu Jayasinga Warman. Syahdan, akibat luka itu, Gajah Mada menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan hingga meninggal dunia.

Dendam sejarah yang amat mendalam di kalangan kerabat negeri Sunda hingga rakyat jelata, tertanam dalam memori kolektif selama berabad-abad. Saya lebih suka menyebut peristiwa itu dengan “Tragedi Bubat”, bukan “Perang Bubat”. Karena fakta yang terjadi, bukan perang antara pasukan dua kerajaan besar, melainkan tragedi antara sekelompok pengiring pengantin yang terlibat kesalahpahaman dan Mahapahatih Kerajaan Majapahit!. Akibat dari tragedi ini, tertanam larangan adat, Esti larangan ti kaluaran (tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda). Dalam arti lain, dilarang menikah dengan orang Jawa. Bahkan, sejak 64 tahun merdeka, di tanah Sunda tidak ditemukan Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Hemat saya, rencana Pemprov Jawa Barat untuk membuat film kolosal “Perang Bubat” dengan anggaran Rp 6 miliar dari APBD, untuk saat ini, kurang tepat. Lebih baik dana itu digunakan untuk rehabilitasi infrastruktur korban gempa bumi, perbaikan sarana pendidikan, peningkatan kesejahteraan rakyat, atau pembenahan destinasi pariwisata yang lebih bermanfaat. Lain waktu, mungkin saja. Kita tunggu tanggal mainnya! (Prof. Dr. H. Dadan Wildan, Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara RI)***

Web: http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade tail&id=119874

9 Tanggapan to “Perlukah Tragedi Bubat Difilmkan?”

  1. dildaar80 Says:

    Menyangka Lembu Tal itu adalah perempuan karena nama ‘Lembu’ dimuka namanya adalah sangat keliru karena di naskah-naskah kuno banyak tokoh-tokoh Majapahit bernama awal ‘Lembu’ ternyata laki-laki contoh Lembu Sora, Lembu Peteng, Lembu Amiluhur dan seterusnya.

    Raden Wijaya nerupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Raden Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar raden belum populer.

    Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan. Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.

    Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singhasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal pulang ke Singhasari membawa serta Wijaya. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.

    Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.

    Berita di atas berlawanan dengan Nagarakretagama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya. Di antara berita-berita di atas, yang paling dapat dipercaya adalah Nagarakretagama karena naskah ini selesai ditulis pada tahun 1365. Jadi, hanya selisih 56 tahun sejak kematian Raden Wijaya.
    Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Menurut Nagarakretagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.

    Pararaton, Babad Tanah Jawi dan Pustaka Rajyarajya i Bhum Nusantara yang menyebut asal-usul R Wijaya dari Sunda ditulis ratusan tahun setelah runtuhnya Majapahit.
    Berbeda dengan Negarakertagama dan Prasasti Balawi yg ditulis beberapa tahun setelah wafatnya Dyah Wijaya yg menyebut memang Wijaya pribumi Jawa Timur. (gelar raden pas tahun itu belum ada/belum menjadi sebutan)

    Kalau Sanjaya dan Wijaya itu orang Sunda kenapa tdk dicandikan di daerah Sunda tetapi justru di Jawa Tengah dan Jawa Timur?

    Ada dua kemungkinan besar:
    1. Iya keduanya ada darah Sunda tetapi tidak sudi dicandikan di Jabar yg tidak menghormati mereka bahkan memusuhi. Bukti, ayah Raden Wijaya diracun justru oleh keluarga yg ingin tahtanya. Begitu pula permusuhan thd Sanjaya dlm cerita2 Parahiyangan.
    2. Memang mereka tidak berdarah Sunda.

  2. 'rina aizawa Says:

    ketulusan tertinggi adalah membalas keburukan dengan kebaikan…

    ini salah satu kaidah untuk bisa membuat keadilan dan kemakmuran…

    tidak bisa dianalisis tapi bisa dirasakan….bagi yang perasa…

    tidak ada permintaan publikasi karena lapar aku lah belum makan hehe…

  3. Orang Sunda memang Kokoh, matipun dengan harga diri,! Pengecut2 seperti ‘Mereka’ hanya bisa mendominasi tanpa hati nurani, menjajah tanpa bisa menghargai,! Bagi bangsa Sunda, Gajah Mada bukan pahlawan tapi seorang Pengkhianat,!!

  4. R. wijaya emang benar keturunan sunda, akan tetapi cuma sebentar, hidup d sunda,

  5. Alaaaahhhh…. pusing amat sih, kan dah jelas di paparan atas juga kalau Sunda-Jawa itu dulunya juga satu (keturunan). Wangsa rajasa yang didirikan oleh Sanjaya jelas-jelas menjelaskan kalau Sanjaya adalah keturunan Galuh-Sunda (bapak keturunan Galuh ibu dari Kalingga, sementara Kalingga pun juga ada keterkaitan dengan kerajaan Tarumanagara). Jelas masih satu runtutan keturunan. Peristiwa Bubat hanyalah insiden akibat kesalahpahaman dan keserakahan nafsu manusia.

    Wallahu a’lam

  6. katanya maja pahit
    menguasai nusantara
    padahal kerajaan di sunda tidak pernah takluk pada majapahit .!iya yaa.,…..”takut salah
    kabuuuuuur…….!!!!

  7. blogzipper Says:

    Perang Bubat Tidak Pernah terjadi, itu Hanya Rekayasa Politik Masa lalu ???, Baca ini : http://nationalgeographic.co.id/forum/topic-1857.html

    • Tp sejarah itu tidak bohong jendral……..gmn karakter orang seperti gajah mada….yang berani nelikung dari belakang…..seperti orang jepang…….di depan bilang iya….iya……tp d belakang anda akan d tikam……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: