Cara Sunda Membangun Kesejahteraan

Kompas, Sabtu, 31 Januari 2009 | 11:26 WIB
Oleh Djasepudin

Laku hidup yang hanya menuruti nafsu tanpa menimbang ulang kadar nikmat, manfaat, dan mudaratnya merupakan gambaran singkat kecenderungan hidup sebagian besar masyarakat zaman sekarang. Bukan isi yang dicari, melainkan lebih mengejar citra, gengsi, dan puja-puji. Masyarakat Sunda menamakannya ngaberung napsu atau kaleuleuwihi, cenderung diada-adakan, padahal kemampuan jauh dari yang diperlukan.

Pemujaan dalam menggapai impian tersebut dilakukan dengan pelbagai cara, malah terkadang mengabaikan undang-undang negara, aturan lisan, dan tulisan di kemasyarakatan. Bahkan agama yang dianut pun dilupakan, tunggul dirarud catang dirumpak.

Perilaku semacam itu tidak hanya didawamkan masyarakat kota. Masyarakat desa pun melakukan hal serupa. Mereka tidak memikirkan proses yang mesti dilalui. Memulai usaha tidak dipikir secara matang. Sebab, hasil akhir sangkan disebut hebat adalah segalanya.

Buncir leuit loba duit alias banyak uang dan pangan supaya dipiserab ku balarea (disegani masyarakat), tetapi terkenal buntut kasiran dan gumede, adigung-adiguna (kikir-sombong), adalah salah satu penandanya. Bahkan, saking sombongnya, meski r?a ketan r?a keton, barang atau kekayaan yang dimiliki itu tidak menyebabkan dirinya tingtrim paripurna, atau b?b?k ngoyor di sagara, rek nginum neangan cai alias kekayaan bukan jaminan kesejahteraan.

Untuk mencapai kesejahteraan harus melalui pelbagai tahapan, nete taraje nincak hambalan. Namun, tahapan itu mesti dibentengi dengan aturan negara dan dilandasi norma agama, indung hukum bapa darigama. Sebab, baik agama (Islam) maupun kebudayaan (Sunda) tidak melarang umatnya mencari ilmu pengetahuan guna mewujudkan kesejahteraan, moal nyapek mun teu ngoprek, moal ngarih mun teu ngarah, moal ngakeul mun teu ngakal.

Meski demikian, Sunda pun berpesan, elmu tungtut dunya siar, sukan-sukan sakadarna. Ada keseimbangan agar kita tidak terjerumus ng?lmu sapi atau ngelmu ajug. Muhun, elmu sapi adalah kebersamaan dalam hal yang buruk. Adapun elmu ajug adalah pandai berkhotbah, tetapi dirinya tidak melaksanakannya. Penganut ?lmu sapi dan ?lmu ajug awal-akhir bakal jadi korban dari ucap atau tindakannya, tamiang meulit ka bitis, senjata makan tuan.

Sebab, kekayaan atau ilmu yang dimiliki, jika tidak diamalkan dengan baik, disadari atau tidak lambat atau laun akan sirna, ilang tanpa laratan alias lepas tak berbekas. Sayang, siang-malam sebanyak mungkin menumpuk kekayaan, namun hilang seketika karena keteledoran, gulak-giluk kari tuur, h?rang-h?rang kari mata, teuas-teuas kari bincurang alias kekayaan yang dimiliki hanya tinggal selembar pakaian untuk sekadar menutupi kulit kering dan tulang belulang.

Miskin harta dan ilmu

Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi jika kita teu lali ka purwadaksi, teu mopoho keu wiwitan, teu poho ka bali geusan ngajadi. Sebab, orang yang ingat asal-muasal dalam menjalani kehidupan dituntut selalu waspada dan berserah diri kepada Yang Mahakuasa. Hirup dinuhun paeh dirampes, hirup katungkul ku pati pa?h teu nyaho dimangsa, banda sasampiran nyawa gagaduhan. Orang yang melupakan asal-muasal dan melanggar beragam aturan masuk pada kategori jauh ka bedug anggang ka dulang, urang kampung bau lisung, cacah runtah atah warah.

Orang yang jauh ka bedug anggang ka dulang dapat dipastikan selamanya tetap melarat, miskin ilmu dan miskin harta, kokoro nyoso malarat rosa. Hidup hanya mengandalkan belas kasihan dan sumbangan. Hirup ku panyukup ged? ku pam?r?. Sebab, pelbagai usaha yang dijalani orang yang miskin ilmu dan harta kerap berujung pada kekecewaan, n?t? sempl?k nincak semplak, serba salah.

Padahal, untuk membangun kesejateraan tidak mesti banyak harta. Yang lebih penting adalah ketekunan, cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok. Syarat maju dalam menjalani hidup pun bukan melulu faktor keluarga. Menjadi pengusaha tidak mesti terusing ratu rembesing kusumah alias turunan menak, ningrat, atau aristokrat. Orang merdeka yang mau maju tidak agul ku payung butut, ad?an ku kuda beureum, tidak mengandalkan dinasti atau keturunan.

Menjadi individu yang berkarakter dan merdeka merupakan keharusan. Individu yang mau maju dalam meraih kesejahteraan selalu memiliki saku rangkepan alias banyak perhitungan, ka hareup ngala sajeujeuh, katukang ngala sajeungkal, bobot pangayon timbang taraju, leuleus jeujeur liat tali, landung kandungan la?r asian.

Individu semacam ini pun dalam melakukan usaha tidak melulu mengejar kekayaan dalam bentuk benda, kujang dua pangad?kna alias sekali layar terkembang surut kita berpantang. Malah dua-tiga pulau mesti terlewati, sambil menyelam minum air.

Selain kejujuran dan ketekunan, modal lain adalah hemat, bibilintik ti leuleutik babanda ti bubudak, geus ged? tinggal mak?na. Segala aset yang masuk dan dikeluarkan selalu diperhitungkan dengan matang. Malah konsumsi dalam keseharian pun sehemat mungkin, kuru cileuh kent?l peujit, huap hiji diduakeun.

Prinsipnya adalah saeutik mahi loba nyeea atau dahar tamba lapar nginum tamba hanaang alias makan dan minum hanya seperlunya. Segala tindak tanduk mesti bermanfaat, lain lantung tambuh laku lain l?ntang tanpa b?ja, menghindari perjalanan yang tidak perlu dalam mewujudkan cita-citanya.

Tak asal jadi

Oleh karena itu, dalam memutuskan sesuatu tidak asal jadi, tetapi dimusyawarahkan dengan yang lebih ahli, bertanya kepada pakar dalam bidangnya. Nangtung di kariungan ngadeg di karageman, bobot pangayon timbang taraju, leuleus jeujeur liat tali, landung kandungan la?r asian.

Jika sudah menggapai yang dicita-citakan, pribadi Sunda yang merdeka sebisa dan sekuat mungkin tidak mudah tergoda harta, takhta, atau wanita, yang kadang menyesatkan dan menghancurkan. Hal itu untuk menghindari moro julang ngaleupaskeun peusing alias mengejar hal yang dianggap besar, sedangkan harta yang ada dalam genggaman malah dilepaskan.

Adapun wanita, sesuai dengan kodratnya, selain merupakan faktor penting dalam membangun kesejahteraan, jika tidak kita sikapi dengan baik dan hati-hati, kerap menjadi batu sandungan dan malah menghancurkan konstruksi bangunan. Nu geulis jadi werejit nu lenjang jadi baruang. Cag!

DJASEPUDIN Alumnus Program Studi Sastra Sunda Universitas Padjadjaran

Satu Tanggapan to “Cara Sunda Membangun Kesejahteraan”

  1. Sae pisan seratan the, munel seueur papadon karuhun urang anu tos teu dipalire deui ku urang, sok prak nyerat deui anu langkung munel..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: