Archive for the Pusaka Category

Perlukah Tragedi Bubat Difilmkan?

Posted in Eling, Gerakan Kasundaan, Lalampahan, Makalangan, Pangalaman, pangeling2, Primbon, Pusaka, Situs on 10 Januari 2010 by kangadesaputra

Siapa pun, terutama orang Sunda, sepakat bahwa Tragedi Bubat merupakan peristiwa sejarah yang sangat menarik, bukan hanya dari sudut pandang sejarah, melainkan juga sastra. Apalagi, jika diangkat ke layar lebar, lebih seru. Dari sisi sejarah menarik karena faktanya melibatkan dua kerajaan besar di nusantara yang berkembang pada abad ke-14, yakni Kerajaan Galuh di tatar Sunda dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Dari sudut sastra, peristiwa itu dapat dikemas sedemikian rupa menjadi cerita yang menguras emosi, antara percintaan, romantisme, harga diri, dan tragedi.

Banyak sekali penulis yang mengabadikan peristiwa ini sejak abad ke-15 hingga saat ini. Beberapa naskah yang menceritakan tragedi ini dengan sebutan Perang Bubat dan dalam versinya masing-masing, seperti Kitab Pararaton dan Kidung Sundayana, serta naskah-naskah Pustaka Wangsakerta.

Sementara itu, di dalam Naskah Negara Kretagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca, peristiwa itu tidak tercatat dengan jelas. Saya menduga, tentu saja penulis istana Majapahit tidak akan mencatat peristiwa yang telah mencoreng nama baik raja, mahapatih, dan negerinya sendiri ke dalam dokumentasi resmi kerajaannya.

Saat ini, banyak sekali karya sastra yang menggambarkan Tragedi Bubat, yang lebih banyak mengekspresikan reka peristiwa dengan penafsiran penulis disertai keindahan nilai sastra. Sebut saja Kang Yoseph Iskandar. Ia menulis dengan tuturan yang pro Sunda mengenai “Perang Bubat” di majalah Mangle sekitar tahun 1987. Baru-baru ini, Aan Merdeka Permana menulis buku dengan judul Perang Bubat: Tragedi di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka.

Melihat judulnya saja, tentu ada sisi lain yang diangkat penulis, yakni “rekaan” baru adanya percintaan antara Gajah Mada dan Dyah Pitaloka, sebelum Hayam Wuruk jatuh cinta kepada Dyah Pitaloka. Gajah Mada, dinisbatkan ke dalam tokoh Ramada, seorang pegawai rendahan di Keraton Kerajaan Galuh, lalu mengembara dan pada kemudian hari menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit dengan nama Gajah Mada. Kebenarannya? Wallahu a’lam.

Langit Kresna Hariadi menulis buku yang berjudul Gajah Mada: Perang Bubat. Sementara Hermawan Aksa menulis khusus tentang Dyah Pitaloka dengan judul Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit. Tentu saja, para penulis ini tidak akan berani menyebut karyanya sebagai karya sejarah. Lebih tepat karya sastra yang berlatar belakang tokoh sejarah, bukan peristiwa sejarah.

Denting pedang, cinta, tragedi

Tidak dapat dimungkiri bahwa Tragedi Bubat merupakan salah satu episode sejarah yang sangat penting, berkesan, menguras emosi, dan menjadi bagian dari sejarah tatar Sunda.

Kisah ini, selain berisi peristiwa tragis yang menyisakan luka teramat dalam dan dendam sejarah bagi orang Sunda, sekaligus juga mengakhiri karier gemilang dari seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit yang monumental, Gajah Mada. Dari berbagai versi yang muncul tentang tragedi ini, saya ingin mengetengahkan versi yang paling banyak diceritakan dalam berbagai naskah dan karya sastra hingga saat ini, yang juga dengan mudah dapat ditemukan di berbagai situs web di internet.

Tragedi Bubat adalah tragedi yang tragis antara Kerajaan Galuh dan Kerajaaan Majapahit pada pertengahan abad ke-14. Saya tidak berani menyebut angka tahun dengan pasti, mengingat terdapat beberapa angka tahun yang variatif, ada yang menyebut peristiwa itu terjadi pada tahun 1350, 1357, hingga 1360. Yang jelas, peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Prabu Maharaja Linggabuana yang bertahta di Kerajaan Galuh dan Prabu Hayam Wuruk yang berkuasa di Kerajaan Majapahit. Tokoh sentral dalam peristiwa ini, yaitu Dyah Pitaloka (putri cantik Kerajaan Galuh), Hayam Wuruk, dan Gajah Mada sang Mahapatih Majapahit. Gajah Mada saat itu sedang gencar-gencarnya mewujudkan sumpahnya sendiri, Sumpah Palapa.

Peristiwa ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin mempersunting Putri Dyah Pitaloka yang juga dikenal dengan panggilan Citraresmi. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri cantik ini setelah melihat lukisan sang putri yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman terkenal saat itu, Sungging Prabangkara. Selain itu, ada niat lain dari Hayam Wuruk, yakni untuk mempererat tali persaudaraan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Galuh di tatar Sunda. Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka tanpa menimbulkan hambatan yang berarti. Keluarga Kerajaan Majapahit menyadari bahwa pendiri kerajaan itu, yakni Raden Wijaya, juga berasal dari tanah Sunda.

Hayam Wuruk mengirim surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka dan menghendaki upacara pernikahannya dilangsungkan di Keraton Majapahit. Sesungguhnya, dengan mudah dapat dipahami jika dewan kerajaan negeri Sunda keberatan –bukan pada lamarannya, melainkan pada pesta pernikahan yang diminta dilangsungkan di Majapahit.

Hyang Bunisora Suradipati, sang Mangkubumi Kerajaan Galuh, berpendapat, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang ke pihak pengantin lelaki. Sesuatu yang dianggap melanggar tradisi yang berlaku di tanah Sunda saat itu. Bisa juga, Hyang Bunisora, yang dianggap luhung elmu pangaweruh, berprasangka, jangan-jangan keinginan Hayam Wuruk merupakan strategi menjebak Kerajaan Sunda agar takluk di bawah kekuasaannya.

Hubungan antara Kerajaan Galuh dan Majapahit saat itu, sesungguhnya berjalan baik dan relatif erat. Apalagi, rasa persaudaraan di antara kedua kerajaan itu sudah ada dari garis leluhurnya. Oleh karena itu, Maharaja Linggabuana tidak terlalu risau terhadap berbagai prasangka. Dengan kharisma dan wibawa sang raja yang sangat besar, ia memutuskan untuk berangkat ke Majapahit untuk memenuhi harapan Hayam Wuruk.

Berangkatlah Maharaja Linggabuana bersama putri kesayangannya, Dyah Pitaloka, beserta rombongan terbatas ke Majapahit. Perjalanan yang cukup jauh, dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa, tentu bukan perkara mudah. Dari Kawali ke Cirebon, lalu berlayar ke ujung timur Pulau Jawa.Tiba di Majapahit, para tamu agung Kerajaan Galuh itu ditempatkan di Pesanggrahan Bubat –yang sampai sekarang Bubat, masih dalam perdebatan, apakah di Trowulan atau di tempat lain. Mahapatih Gajah Mada dengan senang hati menerima kedatangan rombongan calon pengantin rajanya –lepas dari kisah cinta rekaan Aan Merdeka Permana antara Gajah Mada ketika muda dan Dyah Pitaloka.

Kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat tiba-tiba mengusik niat licik Gajah Mada. Bagaimanapun, sumpahnya di hadapan sang Raja untuk menguasai nusantara harus terlaksana. Negara-negara yang berada jauh di ujung barat yang terbentang hingga Tumasik (Singapura) telah tunduk di bawah kekuasaannya. Demikian pula kerajaan-kerajaan yang terbentang jauh ke timur hingga Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara Barat, juga dengan mudah menyerah. Namun, mengapa Kerajaan Galuh yang hanya sepenggalan dari Kerajaan Majapahit tak dapat ditaklukkan? Kita dapat membayangkan kegalauan hati sang Mahapatih.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai kesatria Sunda, Maharaja Linggabuana menolak tekanan itu. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang. Mahapatih Gajah Mada dengan pasukan bersenjata lengkap, berjumlah besar, dan para bhayangkara yang tangguh, berhadapan dengan Maharaja Linggabuana dengan pasukan pengiring calon pengantin yang berjumlah sedikit dan tidak membawa persenjataan untuk perang, kecuali aksesori untuk kawinan. Namun, heroisme Ki Sunda ditunjukkan hingga titik darah penghabisan.

Dapat dibayangkan, pertempuran yang tidak seimbang itu tentu berakhir dengan tragis. Denting pedang, keris, dan kujang, serta romantisme cinta dan tragedi dramatis menghiasi episode senja di tanah Bubat itu. Maharaja Linggabuana gugur bersama para menteri dan pejabat kerajaannya yang setia. Sang calon pengantin, Dyah Pitaloka, juga menemui ajalnya. Terdapat versi yang berbeda tentang wafatnya Dyah Pitaloka. Ada yang menyebut gugur karena bertempur dengan pasukan Majapahit, ada pula yang lebih tragis menggambarkannya dengan bunuh diri, mempertahankan harga diri dan kehormatan kerajaan. Cerita lain yang lebih heroik, Dyah Pytaloka berduel dengan Gajah Mada meskipun akhirnya gugur. Sang putri berhasil melukai tubuh Gajah Mada dengan keris Singa Barong berlekuk 13. Keris leluhur Pasundan peninggalan pendiri Kerajaan Tarumanegara yang bernama Prabu Jayasinga Warman. Syahdan, akibat luka itu, Gajah Mada menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan hingga meninggal dunia.

Dendam sejarah yang amat mendalam di kalangan kerabat negeri Sunda hingga rakyat jelata, tertanam dalam memori kolektif selama berabad-abad. Saya lebih suka menyebut peristiwa itu dengan “Tragedi Bubat”, bukan “Perang Bubat”. Karena fakta yang terjadi, bukan perang antara pasukan dua kerajaan besar, melainkan tragedi antara sekelompok pengiring pengantin yang terlibat kesalahpahaman dan Mahapahatih Kerajaan Majapahit!. Akibat dari tragedi ini, tertanam larangan adat, Esti larangan ti kaluaran (tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda). Dalam arti lain, dilarang menikah dengan orang Jawa. Bahkan, sejak 64 tahun merdeka, di tanah Sunda tidak ditemukan Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Hemat saya, rencana Pemprov Jawa Barat untuk membuat film kolosal “Perang Bubat” dengan anggaran Rp 6 miliar dari APBD, untuk saat ini, kurang tepat. Lebih baik dana itu digunakan untuk rehabilitasi infrastruktur korban gempa bumi, perbaikan sarana pendidikan, peningkatan kesejahteraan rakyat, atau pembenahan destinasi pariwisata yang lebih bermanfaat. Lain waktu, mungkin saja. Kita tunggu tanggal mainnya! (Prof. Dr. H. Dadan Wildan, Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara RI)***

Web: http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade tail&id=119874

NADOMAN NURUL HIKMAH, DARAS I & II

Posted in Eling, Lalampahan, Makalangan, masantren, Nadoman, ngelmu, pangeling2, Pusaka on 10 Desember 2009 by kangadesaputra

A’udzubillaahi minasy-syaitaanir-radziim
Ka Alloh abdi nyalindung, tina panggodana setan.

بسم الله الرحمن الرحيم
b-ismi-llāhi r-raḥmāni r-raḥīm
Kalayan asma Nu Agung, Alloh Anu Welas Asih.

-Alloh-

1. ALLOH ANU MAHA UNINGA (:2/1,2)
Alloh Nu Maha Uninga, kana sadaya dawuh-Na,
mungguhing urang manusa, wajib kedah percantenna.
Kana Qur’an ulah hamham, ulah waswas ragu-ragu,
upami urang mihamham, tangtos urang buntu laku.
Sadaya umat Pangeran, kedah kenging tuduh jalan,
nu mawi lumungsur Qur’an, pikeun tuduh jalan iman.
Tawisna nu takwa to’at, yakin ayana aherat,
solatna teh tara pegat, ku Alloh tangtos dirahmat.

2. SILIH BAGI REJEKI (:2/2,3,4)
Mun urang nampi rejeki, rejeki pabagi-bagi,
sasama ge kabagean, rejeki silih agehan.
Jelema nu iman mu’min, panceg percaya tur yakin,
kitabulloh nu baheula, eta ge dawuh Mantenna.
Jelema nu iman mu’min, yakinna aenal yakin,
yen engke teh hirup deui, bakal deuheus ka Ilahi.

3. PITUDUH TI ALLOH SWT (:2/5)
Mungguhing nu iman takwa, kenging pituduh Mantenna,
hirupna kenging panungtun, henteu lesot ti panuyun.
Eta teh bagja utama, rahmat teu kinten ageungna,
mulus salamet hirupna, kenging pituduh Mantenna.
Nu kitu hirup rahayu, kenging pituduh lumaku,
moal sasar katambias, moal hamham moal waswas.

4. ULAH NGABEDUL (:2/6,7)
Jelema anu mantangul, hirup nyuruntul ngabedul,
hese dibere pepeling, langlang-lingling lir teu eling.
Mangeran kana napsuna, ngagugulung kahayangna,
aturan kabeh dirumpak, ngaruksak jeung ngagalaksak.
Lajeng ku Alloh ditutup, kalbu dibulen dirungkup,
hatena teh ditulakan, pangreungeuna dicocokan.
Batin jadi kurunyinyi, tebih ti hidayah Gusti,
cilaka estu cilaka, jalma nu kitu lampahna.

5. GANCANG OMEAN (:2/8,9)
Seueur pisan kajantenan, ngaku-ngaku panceg iman,
padahal gagaleongan, kaimanan reureundahan.
Sering pisan kaalaman, pura-pura ngaku iman,
ari lampah euwah-euwah, kitu salah kieu salah.
Lamun nyieun kasalahan, pek omean gagancangan,
gancang menta dihampura, ka Alloh Maha Kawasa.
Kitu lampah sasab pisan, tetela nipu sorangan,
tapi tong peunggas harepan, nu salah gancang omean.

6. SIPATNA JELEMA ANU MUNAPEK (:2/10,11)
Jalma munapek sipatna, mun leukeun nitenanana,
sok resep nyieun alesan, keur nutupan kasalahan,
Kasalahan diteumbleuhkeun, geugeuleuh dika-baturkeun,
hatena pinuh werejit, kotor jeung pinuh rurujit.
Mun hareupeun ngomong hade, tukangeun mah ngalelewe,
nu kitu tong jadi sobat, sabab mindeng ngahianat.

7. ULAH JALIR JANGJI (:2/12,13)
Lamun urang gaduh jangji, kade ulah lanca-linci,
subaya kedah cumponan, sabab eta kahormatan.
Jelema nu jalir jangji, eta teh sami saharti,
reujeung ngaruksak pribadi, henteu ngajenan ka diri.
Nu teu pageuh kana jangji, nu kitu munapek pasti,
hirupna moal jamuga, bakal pinanggih tunggara.

8. NGAJAGA LETAH (:2/14)
Kade jaga eta letah, sabab mindeng mawa salah,
seukeutna leuwih ti pedang, raheutna matak gudawang.
Loba nu meunang cilaka, lantaran tina ngomongna,
ngomong teu dipikir heula, tangtu hanjakal ahirna.
Ngomong ngabuih ngabudah, mindingan lampah nu salah,
ngaku-ngaku iman takwa, padahal reka perdaya,
Iman ukur kaheureuyan, kawas bunglon lolondokan,
kitu peta salah pisan, kudu gancang dijauhan.

9. ULAH NGAHEUREUYKEUN AYAT (:2/15,16)
Mangkade ulah mokaha, ngaheureuykeun pidawuh-Na,
dipake ocon guguyon, kitu peta estu awon.
Jalma ngaheureuykeun ayat, moal pinarinan rahmat,
jeung moal kenging sapa’at, sabab ngaheureuykeun ayat.
Ayat teh dawuhan Gusti, lenyepan mangka kaharti,
sangkan urang ulah rugi, hirup jadi ngandung harti.
Ayat ulah diheureuykeun, kuduna teh dihartikeun,
sangkan hirup ulah rugi, tur kenging rido Ilahi.

10. PALITA ANU TEU CAHAYAAN (:2/17,18)
Kuma pibakaleunana, lamun pareng hiji mangsa,
urang teh nyeungeut palita, tapi teu caang sinarna
Kotret deui cekres deui, ngahurungkeun korek api,
pareum deui pareum deui, poek deui poek deui.
Rajeun palitana hurung, tapi kalah tambah bingung,
sabab cahayana musna, poek mongkleng buta rata.
Kitu minangka misilna, nu munapek ibaratna,
lolong lahir jeung batinna, sasab dunya aheratna.

11. CAHAYA KILAT SAJORELAT (:2/19)
Pareng leumpang tengah peuting, poek mongkleng sepi jempling,
ngadadak baranyay kilat, serab kilat sajorelat.
Jelebet sorana tarik, dunya eundeur rek tibalik,
tinggorowok tingkoceak, asa kiamat ngadadak.
Gelap dor-dar tingjelegur, dunya asa arek lebur,
nu munapek tingjarerit, sieun maot jadi mayit.
Careurik aluk-alukan, anak bojo dicalukan,
tapi taya nu nembalan, hayang salamet sorangan.
Kitu misil nu munapek, leumpang ngatog di nu poek,
uyup-ayap rungah-ringeuh, hatena tagiwur riweuh.
Nu munapek lolong hate, teu apal goreng jeung hade,
cilaka estu cilaka, nu munapek ka naraka.
Alloh Nu Maha Ngamurba, ngamurba ka sadayana,
sadaya mahluk Mantenna, Alloh Nu Maha Kawasa.

12. ULAH WASWAS (:2/20)
Anu hatena ngolembar, waswas hamham tara sabar,
caang pikir sagebrayan, gancang leumpang rurusuhan.
Reup deui poek meredong, utag-atog rarang-rorong,
jen ngajentul mandeg mayong, paningalna jadi lolong.
Lolong teh lolong batinna, torek teh torek rasana,
musna rasa manusana, nu kitu kapir ngaranna.
Nu matak ulah rek hamham, sabab matak ipis iman,
ulah waswas ragu-ragu, mandeg mayong mundur maju.

13. ULAH SALAH NYEMBAH (:2/21)
Eling-eling dulur kuring, sing bisa ngaping ngajaring,
sangkan urang tetep eling, ka Alloh Nu Maha Wening.
Ka Alloh urang sumembah, sumembah iklas tur sadrah,
kade ulah salah nyembah, mung ka Alloh urang nyembah.
Kapan urang diciptakeun, ku Mantenna digelarkeun,
sami jeung anu baheula, nu gelar leuwih ti heula.
Sumujud kedah ka Alloh, wiridan ku asma Alloh,
muntang manteng mung ka Alloh, Maha Suci Gusti Alloh.

14. MATAK WAAS (:2/22)
Ya Alloh Nu Maha Akbar, estu waas matak kelar,
ningal daratan nu ngampar, alam dunya nu ngagelar.
Ret neuteup ka awang-awang, megana pating kalayang,
langit teu aya tungtungna, endah temen kasawangna.
Ti siang ngempray caraang, titingalan awas lenglang,
ti wengi bentang baranang, cahaya bulan gumiwang.
Teu lami hujan miripis, ti langit hujan girimis,
hujan rohmat ti Pangeran, Mantenna Nu Maha Heman.
Tutuwuhan breng jaradi, renung dina latar bumi,
sadaya eta rejeki, paparin Ilahi Robbi.
Mekar sakur kekembangan, leubeut sugri bungbuahan,
kukupu gegelebaran, bangbara sareng nyiruan.
Mung ka Alloh nya sumembah, kade ulah salah nyembah,
ulah rek nyembah berhala, sabab eta teh doraka.

15. ULAH HAMHAM (:2/23,24)
Lamun masih keneh hamham, kana eusina Al Qur’an,
pek geura nyieun sasurat, geura tiron ayat-ayat.
Lamun masih ragu-ragu, yen Qur’an eta teh wahyu,
pek jieun sasurat bae, masing alus masing hade.
Sesembahan penta tulung, sangkan ngabantuan nulung,
mun berhala enya luhung, hempek gancang penta tulung.
Tangtu andika mo bisa, jeung tangtu moal rek bisa,
pek jaga diri andika, sangkan ulah ka naraka.
Wahyu teh ti Gusti Alloh, lumungsur ka Rosululloh,
sanes damelan manusa, pidawuh Alloh Ta’ala.

16. WARTA PIKABUNGAHEUN (:2/25)
Aya warta matak bungah, keur jalma anu sumerah,
nu resep amal ibadah, nu ngomean lampah salah.
Ka jalma nu laku hade, rek lalaki rek awewe,
Alloh moal hare-hare, bakal diganjar nu hade.
Matuhna ge di sawarga, sawarga endah kacida,
langgeng matuhna di dinya, nampi kurnia Mantenna.
Linggih di Janatunna’im, patempatan anu mu’min,
sawargana kanimatan, di dunya taya bandingan.

17. TUDUH JALAN (:2/26,27)
Dina Al – Qur’an nu mulya, seueur simbul jeung siloka,
silib sindir jeung sasmita, anu mu’min mah percaya.
Perlambang teh tuduh jalan, nu mu’min percanten pisan,
tapi ceuk jelema kapir, matak sasab silib sindir.
Siloka sareng sasmita, eta pituduh Mantenna,
tuduh jalan ka umat-Na, sangkan teu sasab hirupna.
Pikeun ngahartikeun lambang, urang sing asak jeujeuhan,
maca tapsir tarjamahan, engke aya katerangan.
Saeusina jagata raya, eta ge ayat Mantenna,
upami ditapakuran, seueur rasiah Pangeran.
Ta pi keur jalma nu musrik, silib sindir teu dilirik,
ayat-ayat ti Pangeran, diantep teu dilenyepan.
Dasar jelema nu fasik, hirupna teh estu musrik,
gawe nyieun karuksakan, rugi lain meumeueusan.

18. MULANG KA ALLOH SWT (:2/28)
Ari mungguhing manusa, nya tina taneuh asalna,
barang paeh mimitina, lajeng dipaparin nyawa.
Barang paeh nya asalna, bisa hirup ku Kersana,
Pangersa Alloh Ta’ala, kumelendang ngalumbara.
Lajeng ku Kersa Ilahi, nu hirup teh paeh deui,
mulang ka asalna tadi, sakabehna paeh deui.
Ku Kersana Maha Suci, engke dina hiji wanci,
nu paeh teh hudang deui, marulang deui ka Gusti.

19. TADABUR ALAM (:2/29)
Sumangga tingali bumi, tafakuran ulah lali,
dunya ngampar lega pisan, eta ciptaan Pangeran.
Sakur sugri nu gumelar, pikeun manusa takajar,
mangpa’atna keur manusa, khalifatullah di dunya.
Nu mawi ulah diruksak, alam ulah digalaksak,
pibelkeleun keur manusa, bekel hirup ngalumbara.
Payungna langit melengkung, tawis kanyaah Nu Agung,
wiati nu tujuh lapis, ti langit hujan miripis.
Ngan manusa sok mokaha, mindeng hilap ka Mantenna,
ka Alloh Nu Maha Heman, sok mindeng tara sukuran.

20. IBLIS ANU DORAKA (:2/30;=30)
Kersaning Ilahi Robbi, awalna nyiptakeun jalmi,
sapangersana Ilahi, sadaya tangtos ngajadi.
Malaikat didawuhan, sangkan sumujud ka Adam,
brek sujud taya nu baha, iwal Iblis nu doraka.
Iblis teh sombong adigung, dumeh tina seuneu hurung,
ngarasa unggul kacida, dibandingkeun jeung manusa.
Iblis teh sombong kacida, asa leuwih ti manusa,
padahal sadaya mahluk, ka Alloh mah tangtos taluk.
Padahal anging Ilahi, nu maphum mah anging Gusti,
mahlukna mah moal ngarti, pangna Alloh nyipta jalmi.
Sakur jelema nu sombong, kumaki jeung gede bohong,
eta teh baturna setan, jeung idajli babarengan.
Ku kituna unggal jalma, nu adigung adiguna,
eta teh baladna setan, bakal dila’nat Pangeran.

Dicutat ti dieu : http://blankon.wordpress.com/2009/08/31/nadoman-nurul-hikmah-daras-i/

Antara migusti jeung mupusti!

Posted in Eling, Lalampahan, Makalangan, masantren, Mistik, ngelmu, Pangalaman, pangeling2, Primbon, Pusaka on 24 Januari 2008 by kangadesaputra

“Jang, tah ieu teh ngarana keris kudamabur! ieu keris teh lamun disimpen diimah maka bakal bisa ngadatangkeun rezeki anu kacida hebatna!” Syaratna tiap malem jumaah kudu diminyakan ku minyak lantung, tepung bulan mulud kudu dimandian ku cikembang 7 rupa! Lamun teu dilaksanakeun engke jadi matak kaserang panyakit arateul bisul dina kelek!” Ceuk abah Ontohod ngomong kitu nateh bari masrahkeun hiji keris buntung ka incuna anu katelah Ujang Roges.

keris_dapur_nogo_sosro.jpg

Lamun nyaritakeun masalah barang-barang pusaka, terus terang kuring sok asa kasieunan. Kasieunan ku naon? kasieunan ku panyangka sabab di imah kuring oge loba pisan parabot jiga kitu teh nya sarupaning keris, kujang, jrrd. Naon sabab, sabab manusa ngan bisana silih sangka, contona jiga kuring. Ari kuring teh kunaon loba barang-barang titinggal jaman baheula sabab kuringmah memang resep kana Seni masingkeun can pantes make gelar seniman mah. Sabab dina keris teh loba pisan lenyepaneunana, ti mimiti bentukna, ukirana, bahanna, jeung anu leuwih hebat deui nyaeta nilai-nilai sejarahna utamana ngeunaan saha anu baheula nyepeng eta keris tur ta dipake naon eta keris.

Conto, aya keris titinggal hiji kyai di jaman Walanda, eta kyai teh salianti getol nyebarkeun Agama Islam oge mingpin perjuangan ngalawan Walanda dugi ka perlaya ngemasing pati ajal di medan laga. Eta keris salila berjuang digunakeun ku eta kyai jang ngalawan musuh. Lamun ngaca kana jujutan carita sajarah eta kyai dimana eta keris jadi bukti pangeling2 ka urang kabeh ngeunaan sikap “Rela berkorban” demi kapentingan Agama, Bangsa jeung ngabelaan harga diri. Naha atuh lamun baheula pamingpin teh jiga kitu kunaon urang ayeuna nu hirup di zaman modern malah loba laku nu teu matut, lain jumlah sakola jeung pasantren geus loba kacida? Naha bet laku lampah masih loba nu jiga manusa anu teu ngadahar bangku sakola. Coba lenyepan!

Tapi naha ari jelema sok salah sangka, pajarkeunteh tah si Akangmah syirik! mempersekutukan Allah SWT da diimahna oge loba keris! Ya ampyun… meni kitu nya… euh… keun we lah da manehnamah mana kitu oge teu apalan naon NIAT kuring ngamumule eta keris teh.

Ayeuna coba jawab pertanyaankuring;

  1. Lamun urang liwat ka makam tengah peuting kunaon make teu wani?
  2. Lamun dihareupeun liliwatan urang aya preman nu keur marabok terus urang liwat bari na cangkeng nyolegreng nyoren Pestol naha make jadi wani? euweuh kasieun?

Kusabab naon jadi SIEUN jeung kusabab naon jadi WANIAN?
Lamun jadi wani gara2 mawa Pestol naha eta lain disebut leuwih percaya ka Pestol batan ka Gusti Allah ? Apa nu kitu lain syirik ngarana? Wallahua’lam da kuring mah lain ajengan tapi hayang ari jadi jalma benermah!Ceuk pendapat sim kuring, aya 2 versi anu paling menonjol ngeunaan laku nyimpen benda2 pusaka.

  • Anu kahiji disebutna MIGUSTI nyaeta percaya kana kakuatan anu aya dina barang pusaka, sehingga anu ngarana ngaminyakan, ngamandian, mere sajsajen jrrd. jadi kawajiban sabab dipercaya mun teu dilakukeun bakal jadi matak jeung lamun dilakukeun bakal mawa kana kabagjaan atawa kana kaberhasilan.
  • Anu kadua disebutnateh MUPUSTI nyaeta miara barang-barang pusaka sabab ku selain ngaharepkeun/menta mangfaat jeung pitulung tina eta barang. Manehna ngoleksi jeung ngarawat eta barang kusabab hal-hal lain misalna; ku nilai seni na, ku nilai sejarahna, ku antikna, jrrd. Anapon manehna sok sakapeung ngaberesihan, ngaminyakan etamah lainpadah ku sieun jadi matak teu pararuguh tapi seieun barangna jadi karatan tea, jadi belewuk ku kebul tea atawa sieun koropos warangkana ku sasatoan.

“Sagala rupa oge tergantung niat” ( cobi dalilna kumaha akang poho deui ;) puguhge ), jadi omat mending oge urang khusnudzan (berbaik sangka) we mun ningal papada urang aya nu rarajeunan ngoleksi barang-barang titinggal karuhun urang baheula. Atuh kanu memang bener2 sok MIGUSTI kana barang pusaka, mudah-mudahan sing dipasihan taufiq sareng hidayah ku Gusti Allah yen eta teh sanes perkara anu sae sabab bisa digolongkeun Syirik, sedeng Syirik kaasupna kana golongan Dosa Besar.

Memang ipis kacida bedana antara MIGUSTI sareng MUPUSTI teh. Jadi daripada urangh tergelincir maka lamun urang can siap, mun urang teu yakin bisa mawana mungkin lebih baik eta barang2 samodel kitu teh disumbangkeun atawa dititipkeun ka museum supaya bisa dialap manfaat jeung pelajaranana ku papada urang.

Hampura sim kuring bisi salah, da ieumah ngan ukur pendapat pribadi wungkul. Mugi teu janten matak renggat galih utamina kanu teu sapamadegan sareng sim kuring. Hatur nuhun.

:: kangadesaputra ::

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.